3.a.1.6 Demonstransi Kontekstual Analisis Wawancara dengan Kepala Sekolah
3.1.a.6 Demonstrasi Kontekstual Pengambilan Keputusan Nilai Kebijakan Sebagai Pemimpin Pembelajaran
Nama CGP :
Vinsensia Cahya Fujikana
Unit :
SDK Sang Timur Pasuruan
Kelas :
A6-58
PP :
Puji Utami, S.Pd.
A.
Wawancara
dengan Kepala Sekolah di Unit CGP Berkarya
Nama Kepala Sekolah :
Sr. Yohana Baptista PIJ
Unit :
SDK Sang Timur Kota Pasuruan
|
Pewawancara |
Selamat siang
suster, terima kasih saya sampaikan kepada suster atas kesediaannya
memberikan waktu bagi saya untuk
melakukan wawancara sehubungan dengan tugas saya selaku CGP untuk mencari
informasi pengambilan keputusan dilema etika sebagai pemimpin pembelajaran. |
|
Narasumber |
Baik Bu Pungky
terima kasih kembali, saya persilahkan |
|
Pewawancara |
Sebagai seorang
kepala sekolah, selama ini, bagaimana Suster dapat mengidentifikasi
kasus-kasus yang merupakan dilema etika atau bujukan moral? |
|
Narasumber |
Ketika
menghadapi permasalahan yang mengandung 2 unsur nilai kebijakan yang
sama-sama benar dan saling bersinggungan, saya mengidentifikasi sebagai
dilema etika, sedangkan jika permasalahan tersebut terdapat unsur yaitu salah
pada satu sisinya dan benar pada sisi yang lain, saya mengidentifikasi itu
sebagai bujukan moral. |
|
Pewawancara |
Selama ini,
bagaimana suster menjalankan pengambilan keputusan di sekolah, terutama untuk
kasus-kasus di mana ada dua kepentingan yang sama-sama benar atau sama-sama
mengandung nilai kebajikan? |
|
Narasumber |
Yang saya
lakukan dalam menjalankan pengambilan keputusan yaitu menjaga nama baik lembaga dan karya, memberikan
manfaat bagi banyak orang, sedikit mengandung resiko, dan tentunya untuk
kemuliaan Tuhan. |
|
Pewawancara |
Langkah-langkah
atau prosedur seperti apa yang biasa suster lakukan selama ini? |
|
Narasumber |
Langkah yang
saya ambil yaitu : 1.
Mengidentifikasi
permasalahan 2.
Mempelajari
peraturan yang berlaku baik sesuai peraturan pemerintah, yayasan, dan unit
karya yang telah disepakati bersama 3.
Melakukan
diskusi bersama waka dan yang berkepentingan 4.
Jika
memang diperlukan, saya menghubungi orang yang memiliki keahlian dalam topik
permasalahan yang sedang terjadi seperti penasihat pendidikan yang ditunjuk
yayasan, psikolog atau bisa juga dinas terkait. 5.
Mempertimbangkan
manfaat dan resiko yang akan dihadapi serta cara menghadapinya 6.
Berdoa
untuk memohon petunjuk dan berkat dari Tuhan dalam setiap pengambilan
keputusan 7.
Baru
setelah itu mengambil keputusan |
|
Pewawancara |
Hal-hal apa saja
yang selama ini suster anggap efektif dalam pengambilan keputusan pada
kasus-kasus dilema etika? |
|
Narasumber |
Hal-hal yang
efektif dalam pengambilan keputusan yaitu dengan berdiskusi bersama waka dan
yang berkepentingan, serta mendengarkan pertimbangan dari penasehat/seseorang
yang memiliki keahlian dalam kasus tersebut |
|
Pewawancara |
Hal-hal apa saja
yang selama ini merupakan tantangan dalam pengambilan keputusan pada
kasus-kasus dilema etika? |
|
Narasumber |
Hal-hal yang
menjadi tantangan adalah ketika memberikan pengertian kepada salah satu pihak
harus mendapatkan imbas/kecewa karena pengambilan keputusan tersebut,
bagaimana saya harus menghadapi yang bersangkutan, bagaimana saya harus
menjelaskan secara baik alasan dan pertimbangan yang saya ambil. |
|
Pewawancara |
Apakah suster
memiliki sebuah tatakala atau jadwal tertentu dalam sebuah penyelesaian kasus
dilema etika, apakah suster langsung menyelesaikan di tempat, atau memiliki
sebuah jadwal untuk menyelesaikannya, bentuk atau prosedur seperti apa yang suster
jalankan? |
|
Narasumber |
Sesuai dengan
situasi dan kasus yang dihadapi, jika itu bersifat segera, maka skala
prioritas harus segera diputuskan, namun jika keputusannya masih bisa diambil
kemudian, maka saya akan melakukan identifikasi dan menentukan
langkah-langkah tepat dalam sebelum mengambil keputusan. |
|
Pewawancara |
Adakah seseorang
atau faktor-faktor apa yang selama ini mempermudah atau membantu suster dalam
pengambilan keputusan dalam kasus-kasus dilema etika? |
|
Narasumber |
Pasti ada,
karena ketika ada masalah, Tuhan pasti menyediakan jalan yang terbaik,
seperti bintang yang disediakan oleh Tuhan untuk menuntun orang Majus. |
|
Pewawancara |
Dari semua hal
yang telah disampaikan, pembelajaran apa yang dapat Anda petik dari
pengalaman suster mengambil keputusan dilema etika? |
|
Narasumber |
Pembelajaran
yang dapat dipetik adalah setiap permasalahan harus kita hadapi, kita
identifikasi dan kita selesaikan dengan memaksimalkan manfaat yang bisa
diambil, dan meminimalisir resiko. Saya yakin Tuhan tidak akan menguji
umatNya melampaui batas kemampuannya. Dan setiap ada kebaikan disitu pasti
ada jalan penyelesaian. |
B.
Wawancara
dengan Kepala di Unit Lain
Nama Kepala Sekolah :
Hamidah, M.Pd.
UPTD :
SDN Kebonagung Kota Pasuruan
1. Selama ini, bagaimana Anda dapat mengidentifikasi kasus-kasus yang
merupakan dilema etika atau bujukan moral?
Permasalahan
yang ada di sekolah sangat komplek dan luar biasa hal ini disebabkan SDN
Kebonagung merupakan salah satu sekolah dasar terbesar di kota Pasuruan.
Dilihat dari jumlah gurunya hampir 60 orang, siswanya kurang lebih 930 anak
belum ditambah lagi dengan wali murid dan lingkungan sekitar sekolah sehingga
akan tentu saja bisa muncul masalah sewaktu-waktu. Masalah yang ada, (tutur
Kepala sekolah) selama ini muncul dari beberapa pihak antara lain dari guru,
siswa dan juga orang tua siswa dan tidak jarang pula masalah yang ada silih
berganti menerpa sekolah itu dari ekstern sekolah. Dalam menyikapi permasalahan
tersebut saya berusaha untuk mengidentifikasi permasalahan yang ada dengan
memilahnya terlebih dahulu, jawab Kepala Sekolah.
Misalkan
ada masalah yang memiliki dilema etika yakni masalah tersebut sepertinya
menyebabkan dua kepentingan yang sama-sama benarnya tentunya hasil keputusan
juga harus sesuai atau tidak merugikan. Selain itu juga mungkin masalah bisa
muncul antara masalah yang benar atau salah sehingga menimbulkan bujukan moral
untuk kita ikuti. Hal semacam itu saya berusaha untuk mengkaitkannya, dan
melakukan identifikasi dengan pendekatan hukum dan
norma moral/etika yang ada. Setelah melakukan pemilahan masalah yang ada kepala
sekolah berusaha untuk mencari sumber masalah yaitu dengan mencari sumber
masalahnya dengan cara menggali informasi dari berbagai pihak, termasuk dari
pihak yang berselisih serta dari pihak-pihak lain yang sekiranya terlibat
dengan masalah yang timbul agar kita bisa menentukan apakah masalah yang ada
tersebut bertentangan dengan hukum atau norma etika yang ada. Selanjutnya akan
tampak jelas akar masalah yang ada, sehingga nantinya mampu memberikan
kejelasan untuk dapat menyelesaikan masalah yang timbul atau terjadi.
2. Selama ini, bagaimana Anda menjalankan pengambilan keputusan di sekolah
Anda, terutama untuk kasus-kasus di mana ada dua kepentingan yang sama-sama
benar atau sama-sama mengandung nilai kebajikan?
Selama
ini dalam pengambilan keputusan di sekolah selain melakukan pendekatan norma
hukum dan moral serta mencari penyebab masalah, kepala sekolah juga berusaha
memecahkan masalah dengan melibatkan berbagai sudut pandang, artinya mencari
informasi-informasi yang berkaitan dari masalah yang timbul selanjutnya kepala
sekolah berupaya menimbang-nimbang keputusan tersebut dengan seadil-adilnya dan
berusaha mengambil keputusan yang memberikan manfaat kepada banyak pihak.
Karena kepala sekolah tidak bisa menyenangkan semua pihak, akan tetapi kepala
sekolah berupaya dalam mengambil keputusan tersebut tidak sampai menimbulkan
dampak yang buruk, atau memiliki resiko yang paling kecillah terhadap masalah
yang ada. Kepala sekolah tentu saja dalam mengambil keputusan itu harus sesuai
dengan norma hukum dan menguntungkan banyak pihak dan punya resiko yang kecil
dan keputusan tersebut juga
diambil dari hasil musyawarah antara pihak-pihak yang terlibat dan juga membawa
masalah tersebut ke forum rapat jikalau masalah itu perlu untuk diketahui oleh
seluruh pihak di sekolah, akan tetapi jika masalah tersebut bersifat rahasia
tentu masalah yang ada khusus dikonsumsi oleh pihak-pihak yang berkepentingan
saja.
3. Langkah-langkah atau prosedur seperti apa yang biasa Anda lakukan selama
ini?
Masalah
di sekolah ini komplek karena sekolah kita besar, akan tetapi kita selalu
terbuka atau menjalin informasi baik kepada guru dan walimurid atau pihak lain
untuk saling membantu dalam menyelesaikan masalah yang timbul. Apa bila ada
masalah-masalah yang timbul langkah-langkah saya dalam mengambil keputusan
adalah:
1.
Menggali informasi yang lebih mendalam terkait
masalah yang muncul dari berbagai aspek.
2.
Kemudian mengumpulkan atau duduk bersama dengan
orang-orang yang terlibat dalam kepentingan tersebut
3.
Mencari sumber masalah dan melakukan telaah terhadap
pelanggaran hukum atau norma yang berlaku
4.
Mencari pertimbangan dengan beberapa tokoh di
sekolah atau orang yang bisa diajak sharing, komite, atau dinas terkait jika
memang masalahnya berat.
5.
Mengambil keputusan dengan solusi dan resiko paling
ringan, serta tetap menimbang kemaslahatan orang banyak
4. Hal-hal apa saja yang selama ini Anda anggap efektif dalam pengambilan
keputusan pada kasus-kasus dilema etika?
Yang
paling efektif dalam pengambilan keputusan adalah dengan komunikasi hangat atau
efektif dengan semua pihak, baik itu guru, komite, orang tua maupun siswa.
5.
Hal-hal apa
saja yang selama ini merupakan tantangan dalam pengambilan keputusan pada
kasus-kasus dilema etika?
Tantangannya
adalah sekolah kami sekolah yang besar sehingga jumlah guru dan siswa juga
sangat banyak, termasuk sarana dan prasarana sekolah dan juga ada faktor
eksternal yang kadang-kadang salah persepsi terhadapa kebijakan yang diambil
disekolah. Pihak luar bisa jadi adalah pencari berita wartawan atau LSM dan bisa
juga lembaga penjaminan konsumen. Semakin banyaknya orang dalam suatu instansi
masalah yang muncul juga banyak dan terkadang pengambilan keputusan yang
diambil tidak bisa menyenangkan hati semua orang atau pihak akan tetapi sekolah
berupaya untuk mencari resiko yang paling kecil dan mengambilan keputusan
diambil untuk kepentingan umum bukan pihak-pihak tertentu.
6.
Apakah Anda
memiliki sebuah tatakala atau jadwal tertentu dalam sebuah penyelesaian kasus
dilema etika, apakah Anda langsung menyelesaikan di tempat, atau memiliki
sebuah jadwal untuk menyelesaikannya, bentuk atau prosedur seperti apa yang
Anda jalankan?
Saya
selaku kepala sekolah selalu mengadakan staf meeting setiap bulan, staf meeting
ini saya pakai untuk menyampaikan informasi kedinasan mapun menyampaikan
masalah-masalah yang timbul tenggelam dalam kurun waktu satu bulan. Apabila ada
urgentsi yang perlu mengumpulkan guru dan karyawan maka staffmeeting bisa
dilakukan di akhir minggu atau saat itu juga. (tutur kepala sekolah SDN
Kebonagung)
7.
Adakah
seseorang atau faktor-faktor apa yang selama ini mempermudah atau membantu Anda
dalam pengambilan keputusan dalam kasus-kasus dilema etika?
Pastinya
untuk mengelola sekolah yang sebesar SDN Kebonagung ini saya tidak sendirian
dalam mengambilan keputusan, ada beberapa pihak yang biasanya saya ajak ngobrol
tentang masalah sekolah ini. Saya sudah membentuk Tim IT untuk membantu
mempromosikan dan mengatasi masalah secara online, kemudian ada tim untuk
mengelola standart kualitas sekolah atau mengatur kurikulum yang diterapkan di
sekolah. Ada juga tim kebersihan dan kesejahteraan warga sekolah. Sehingga
dimasing-masing sektor yang selama ini muncul permasalahan sudah ada
koordinator masing-masing untuk kita berkomunikasi dalam pemecahan masalah yang
ada di sekolah kami
8.
Dari semua
hal yang telah disampaikan, pembelajaran apa yang dapat Anda petik dari
pengalaman Anda mengambil keputusan dilema etika?
Dari semua kegiatan ini, saya dapat mengambil kesimpulan bahwa setiap
masalah pasti ada solusinya, mengatasi masalah harus mampu melibatkan semua
pihak agar dalam pengambilan keputusan dapat menghasilkan keputusan yang
terbaik dan menghindari resiko yang sekecil-kecilnya. Jika ada masalah yang
bertentangan hukum maka keputusan yang diambil harus tegas dan sesuai aturan
yang ada.
C.
Analisis
Hasil Wawancara
Hal
yang menarik yang muncul dari wawancara tersebut adalah perbedaan kondisi unit
sekolah yaitu sekolah swasta dan sekolah negeri. Pimpinan sekolah swasta
merupakan seorang biarawati yang biasa disebut suster, sedangkan pimpinan
sekolah negeri adalah warga sipil. Dalam wawancara tersebut ditemukan bahwa
disetiap unit mengalami kasus dilema etika dan bujukan moral. Semakin besar
lembaga yang dipimpin, semakin kompleks permasalahan yang terjadi. Dalam setiap
lembaga terdapat kebijakan
masing-masing, namun dalam pengambilan keputusan memiliki alur yang seirama.
Ada pertanyaan dibenak saya, beliau kemungkinan belum mengenal 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9
langkah pengujian seperti yang saya pelajari pada modul 3.1, namun ketika para pimpinan
pembelajaran ini melakukan pengambilan keputusan, dalam proses/langkahnya terdapat
4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengujian, meskipun belum terpenuhi
semuanya, namun mengarah pada hal tersebut. Hal ini menjadi menarik bagi saya,
karena kebijakan yang beliau berdua miliki.
Dari
hasil wawancara 2 pimpinan pembelajaran, ada persamaan dalam menentukan cara
pengambilan keputusan yaitu mengidentifikasi masalah, melakukan
diskusi/musyawarah dengan pihak terkait, mempertimbangkan dengan peraturan yang
berlaku, meminta pertimbangan dari seseorang yang ahli dalam bidangnya/dinas
terkait, mempertimbangkan resiko dan kebermanfaatan bagi banyak orang serta
lembaga. Pimpinan sama-sama melakukan antisipasi untuk mengatasi/mencegah/meminimalisir
permasalahan melalui tim/waka seksi yang dibentuk. Dalam langkah pengambilan
keputusan dan penetapan keputusan, pimpinan pembelajaran menyesuaikan dengan
kondisi disetiap unit masing-masing, hal ini yang menjadi perbedaan, seperti
ada sisi religius yang turut mendasari pengambilan keputusan dari kepala
sekolah swasta, karena memang beliau seorang biarawati, adanya ketaatan
terhadap Yayasan dan Kongregasi tempat bernaung, namun tetap memperhatikan
peraturan dari Dinas Pendidikan. Sedangkan untuk kepala sekolah negeri ada
ketaatan terhadap Dinas Pendidikan sebagai atasnya.
Rencana
kedepan para pimpinan dalam menjalani pengambilan keputusan yang mengandung
unsur dilema etika adalah dengan memperhatikan
4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengujian. Untuk mengukur efektivitas pengambilan keputusan adalah dengan melihat
kebermanfaatan yang didapat oleh banyak orang dan lembaga, serta kecilnya
resiko yang dihadapi, sehingga resiko tersebut dapat diatasi dengan baik.
Setelah
mempelajari 4 paradigma yaitu individu lawan kelompok (individual vs community),
rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs merkcy), ebenaran lawan kesetiaan
(truth vs loyalty), jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long
term), 3 prinsip yaitu berpikir berbasis hasil akhir (ends-based thinking), berpikir
berbasis peraturan (rule-based thinking), dan berpikir berbasis rasa peduli
(care-based thinking), serta 9 langkah pengujian, maka untuk kedepannya saya
akan berusaha menerapkannya ketika saya menghadapi dilema etika, baik itu yang
terjadi pada murid, orang tua murid, dan rekan sejawat.
Komentar
Bu pungki emang joss! Semangat mengajar!