3.1.a.8 KONEKSI ANTAR MATERI 3.1 Pengambilan Keputusan Dilema Etika dan Bujukan Moral
3.1.a.8 KONEKSI ANTAR MATERI
Nama CGP :
Vinsensia Cahya Fujikana
Unit :
SDK Sang Timur Pasuruan
Kelas :
A6-58
PP :
Puji Utami, S.Pd.
1.
Bagaimana
filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan
penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?
Dalam
proses “menuntun”, anak diberi kebebasan untuk menemukan kemerdekaannya dalam
belajar, namun pendidik sebagai ‘pamong’ harus memberikan tuntunan dan arahan.
Ada tiga
semboyan pendidikan Ki Hajar Dewantara yang harus disadari oleh guru yaitu ing ngarasa sung tuladha yang artinya guru harus mampu memberikan
teladan, ing madya mangun karsa, ditengah anak-anak guru memberikan semangat
baik, tut wuri handayani artinya guru harus mendorong anak-anak untuk terus
berkembang sesuai dengan talenta yang dimiliki. Hendaknya hal ini menjadi
landasan bagi guru dalam pengambilan keputusan yang berpihak kepada murid,
humanis dan bijaksana.
2.
Bagaimana
nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip
yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
Penguatan
dan penanaman nilai-nilai guru penggerak yaitu berpihak kepada siswa,
kolaboratif, refleksi, kolaborasi dan inovatif, harus mendukung perubahan dan menjadi prinsip dalam
pengambilan suatu keputusan untuk mewujudkan pembelajaran sepanjang hayat yang
positif dan merdeka.
3.
Bagaimana
materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan)
yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran
kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil?
Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada
pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut?
Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada
sebelumnya.
Apa
yang terbaik bagi diri kita, belum tentu terbaik bagi orang lain, hal ini
menjadi sebuah kesadaran bagi kita bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk
menemukan jalan keluar yang sesuai dengan kondisinya. Hal ini selaras dengan salah
satu proses coaching adalah membuka ruang emansipasif bagi coach dan coachee
untuk merefleksikan kebebasan mereka
melalui kesepakatan dan pengakuan bersama terhadap norma-norma (rasa percaya,
selaras, apresiatif) yang mengikat mereka dan menemukan kekuatan serta potensi
dirinya. Komunikasi yang emansipatif menciptakan keselarasan cara berpikir.
Melalui coaching, coach menuntun coachee untuk menemukan ide baru atau cara
untuk mengatasi tantangan yang dihadapi atau mencapai tujuan yang dikehendaki.
4.
Bagaimana
kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan
berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema
etika?
Penerapan kesadaran penuh bersama lima
keterampilan sosial-emosional (kesadaran diri,
pengelolaan diri, kesadaran sosial, keterampilan
relasi, dan pengambilan keputusan yang
bertanggung jawab dan beretika) secara terhubung,
terkoordinasi, aktif, fokus, dan eksplisit, dapat mendukung terwujudnya
well-being ekosistem sekolah. Dengan well-being yang optimum seseorang memiliki
kemungkinan lebih tinggi untuk terlibat dalam perilaku sosial yang lebih
bertanggung jawab. Hal ini akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan yang
bijaksana.
5.
Bagaimana
pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada
nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?
Rokeach (dalam Abdul H., 2015),
menyatakan bahwa nilai merupakan keyakinan
sebagai standar yang mengarahkan perbuatan dan tolok
ukur pengambilan keputusan
terhadap objek atau situasi yang sifatnya sangat
spesifik. Kehadiran nilai-nilai positif dalam
diri seseorang akan membantu mereka mengambil posisi
ketika berhadapan dengan situasi
atau masalah, sebagai bahan evaluasi ketika membuat
keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu perlu Untuk itu perlu mulai
ditumbuhkan pola pikir dan nilai-nilai guru penggerak yaitu (1) berpihak pada
murid, (2) reflektif, (3) mandiri, (4) kolaboratif, serta (5) inovatif dalam berlatih
dan mengadopsi kebiasaan “berpikir sistem” sebagai pendekatan holistik yang
berfokus pada bagaimana bagian-bagian penyusun sebuah ekosistem pendidikan
saling terkait dan bagaimana bagian-bagian tersebut dari waktu ke waktu bekerja
secara simultan.
6.
Bagaimana
pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya
lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
Pengambilan keputusan yang tepat tentunya telah
melalui sebuah proses, seperti diskusi dengan pihak yang terkait, adanya
langkah pengujian, bermanfaat bagi
banyak pihak dan memiliki resiko yang kecil. Dengan demikian keputusan yang
diambil akan menentukan arah dan tujuan suatu institusi atau lembaga serta
menunjukkan nilai-nilai atau integritas dari institusi tersebut, yang pada
akhirnya berpengaruh kepada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman
dan nyaman.
7.
Apakah
tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan
keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan
perubahan paradigma di lingkungan Anda?
Adapun tantangan-tantangan yang terjadi
adalah kebiasaan yang sudah menjadi zona nyaman, dan kemampuan SDM yang
beragam, sehingga keputusan kadang terasa sepihak atau tidak memberikan
pengaruh serta manfaat. Serta sistem sekolah yang kadang menjadi sebuah
pertentangan karena memaksa guru untuk memutuskan sesuai dengan peraturan yang
ada.
8.
Apakah
pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan
murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk
potensi murid kita yang berbeda-beda?
Ki Hajar Dewantara juga mengibaratkan guru
sebagai petani yang menebar berbagai benih di ladang. Petani itu harus merawat benih tersebut sesuai dengan karakter
masing-masing tumbuhan. Demikian juga guru diharapkan mampu menuntun murid
sesuai dengan karakter masing-masing. Menyikapi hal ini, maka guru sebagai
pimpinan pembelajaran yang memiliki nilai inovatif dapat mengambil keputusan
untuk merancang pembelajaran sesuai dengan kondisi kelas. Dengan demikian siswa
memiliki kemerdekaan untuk melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan
kebutuhan. Salah satu pembelajaran yang
tepat adalah pembelajaran berdeferensiasi dimana pembelajaran ini menyediakan
lingkungan belajar yang memungkinkan setiap anak dapat tumbuh dan berkembang
dan dan memastikan bahwa dalam prosesnya, anak-anak tersebut merasa selamat dan
bahagia.
9.
Bagaimana
seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi
kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
Salah satu kategori paradigma yang terjadi
pada situasi dilema etika adalah Jangka pendek lawan jangka panjang (short term
vs long term). Seringkali kita harus memilih
keputusan yang kelihatannya terbaik untuk saat ini
atau yang terbaik untuk masa yang
akan datang. Pentingnya mengidentifikasi paradigma
ini, bukan hanya mengelompokkan
permasalahan, namun menjadi penajaman nilai-nilai inti
kebajikan yang sama-sama penting Maka keputusan yang diambil oleh seorang
pemimpin pembelajaran dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan
murid-muridnya.
10. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul
materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?
Kesimpulan yang dapat ditarik dari
pembelajaran modul ini adalah
1.
Triloka
yang merupakan filosofi Ki Hajar
Dewantara harus dijiwai
oleh guru yaitu ing ngarasa
sung tuladha yang artinya guru harus mampu memberikan teladan, ing madya mangun
karsa, ditengah anak-anak guru memberikan semangat baik, tut wuri handayani
artinya guru harus mendorong anak-anak untuk terus berkembang sesuai dengan
talenta yang dimiliki.
2.
Penguatan
dan penanaman nilai-nilai guru penggerak yaitu berpihak kepada siswa,
kolaboratif, refleksi, kolaborasi dan inovatif, harus mendukung perubahan dan menjadi prinsip dalam
pengambilan suatu keputusan untuk mewujudkan pembelajaran sepanjang hayat yang
positif dan merdeka.
3.
Dalam
upaya mewujdukan keputusan yang selaras dengan visi dan misi sekolah,
diperlukan alur BAGJA agar keputusan yang diambil membawa perubahan positif dan
bermakna.
4.
Kehadiran
nilai-nilai kebajikan yang menjadi budaya positif dalam diri seseorang akan membantu mereka mengambil
posisi ketika berhadapan dengan situasi atau
masalah, sebagai bahan evaluasi ketika membuat keputusan dalam kehidupan sehari-hari.
5.
Melalui
pembelajaran berdeferensiasi guru dapat mengambil keputusan masuk akal (common
sense) karena pembelajaran berdiferensiasi menjadi sebuah solusi tepat untuk
mewadai minat dan bakat siswa.
6.
Penerapan
kesadaran penuh bersama lima keterampilan sosial-emosional (kesadaran diri,
pengelolaan diri, kesadaran sosial, keterampilan relasi, dan pengambilan
keputusan yang bertanggung jawab dan beretika) secara terhubung, terkoordinasi,
aktif, fokus, dan eksplisit.
7.
Proses
coaching adalah membuka ruang bagi coach
dan coachee untuk merefleksikan
kebebasan mereka melalui kesepakatan dan pengakuan bersama terhadap
norma-norma yang mengikat mereka dan menemukan kekuatan serta potensi dirinya. Sehingga
pengambilan keputusan akan menjadi sebuah kesadaran untuk melakukan perubahan
kearah yang lebih baik.
11. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang
telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4
paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah
pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar
dugaan?
Dalam
mengambil keputusan dan menguji keputusan yang akan diambil dalam situasi dilema
etika ataupun bujukan moral yang membingungkan, ada 9 langkah yang dapat dilakukan,
yaitu :
1.
Mengenali
nilai-nilai yang saling bertentangan
2.
Menentukan
siapa yang terlibat dalam situasi ini
3.
Kumpulkan
fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini
4.
Pengujian
benar atau salah, meliputi uji legal, uji regulasi/standar profesional, uji
publikasi, uji panutan/idola.
5.
Pengujian
paradigma benar lawan benar dimana situasi ini meliputi :
-
Individu lawan kelompok (individual vs community)
-
Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
-
Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
-
Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)
6.
Melakukan
Prinsip Resolusi
Dari
3 prinsip penyelesaian dilema, mana yang akan dipakai :
·
Berpikir
Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
·
Berpikir
Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
·
Berpikir
Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)
7.
Investigasi
Opsi Trilema
8.
Buat
keputusan
9.
Lihat
lagi Keputusan dan Refleksikan
Hal diluar dugaan bagi saya adalah bahwa dalam
pengambilan keputusan kita harus menelaah 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah
pengujian sehingga pengambilan keputusan yang diambil adalah keputusan yang
bertanggung jawab dan mendasarkan keputusan pada nilai-nilai kebajikan
universal. Dan pengambilan keputusan merupakan ketrampilan yang harus diasah.
12. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda
menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema?
Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?
Dalam
menjalankan tugas sebagai guru pengambilan keputusan dalam situasi moral dilema
pernah saya alami, dan dalam pengambilan keputusan ini saya hanya
mempertimbangkan benar/salah, besarnya manfaat dan resiko yang kecil, diskusi
dengan pihak yang terkait dan meminta saran kepada seseorang yang berpengalaman
serta memiliki hubungan dekat dengan saya.
13. Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil
keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?
Sebuah
pengetahuan yang sangat bermanfaat dalam menentukan keputusan. Modul ini membuat
saya untuk kembali merefleksikan cara pengambilan keputusan yang saya lakukan
dengan prinsip-prinsip yang melandasi cara berfikir saya selama ini. Dengan mengidentifikasi
4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengujian membuka wawasan baru bagi saya
dalam pengambilan suatu keputusan,
khususnya pada kasus-kasus yang berkaitan dengan nilai-nilai kebajikan atau etika
yang selaras dengan visi dan misi lembaga.
14. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda
sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?
Mempelajari dan menerapkan topik pada modul ini merupakan kewajiban bagi seorang pimpinan pembelajaran, karana salah satu peran seorang pemimpin dalam mengemban tugasnya, yaitu mengambil suatu keputusan, khususnya pada kasus-kasus yang berkaitan dengan nilai-nilai kebajikan atau Etika. Kasus dilema etika dan bujukan moral pasti akan dialami dalam pelaksanaan tugasnya. Dengan pengetahuan ini seorang pimpinan akan mampu mengambil keputusan tepat, sehingga keputusan yang diambil akan menentukan arah dan tujuan suatu institusi atau lembaga serta menunjukkan nilai-nilai atau integritas dari institusi tersebut, yang pada akhirnya berpengaruh kepada mutu pendidikan. Dengan demikian diharapkan pimpinan akan menjadi seorang pemimpin yang lebih baik, berkualitas, dan mandiri.
Komentar