2.3.A.8. Koneksi Antarmateri - Modul 2.3
2.3.A.8. Koneksi
Antarmateri - Modul 2.3
Nama CGP : Vinsensia Cahya Fujikana, S.Pd.
Angkatan : A-6 58
Unit Kerja : SDK Sang Timur Pasuruan
PP : Puji Utami, S.Pd.
Ki
Hadjar Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan itu ‘menuntun’, oleh sebab
itu keterampilan coaching perlu dimiliki para pendidik untuk menuntun segala
kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai
manusia maupun anggota masyarakat. Proses coaching sebagai komunikasi
pembelajaran antara guru dan murid, murid diberikan ruang kebebasan untuk
menemukan kekuatan dirinya dan peran pendidik sebagai ‘pamong’. Dari pemahaman
di atas, apa yang dimaksud coaching? Secara umum, coaching
didefinisikan sebagai sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi,
berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan
atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan
pribadi dari coachee (Grant, 1999). Dari pemahaman di atas, membuka wawasan sebagai guru untuk terus belajar
dalam memerankan diri sebagai pamong dalam proses menuntun agar siswa menjadi
terarah. Selama ini dalam proses menuntun, guru cenderung memberikan saran,
petunjuk tanpa menggali pemahaman siswa dan keinginan siswa untuk mengatasi
masalah dengan solusi dari buah pemikirannya. Maka model TIRTA dikembangkan
dengan semangat merdeka belajar yang menuntut guru untuk memiliki keterampilan
coaching. Dalam model TIRTA ini guru melakukan tahapan T=Tujuan, I=Identifikasi,
R=Rencana Aksi dan TA=Tanggung Jawab yang kesemuanya menggunakan pertanyaan
berbobot.
Dalam
kaitannya dengan modul sebelumnya yaitu pembelajaran berdiferensiasi, terdapat
pemahaman seorang guru untuk memetakan keadaan dan kemampuan siswa menjadi
sangat penting karena dengan cara itulah siswa dapat menerima pembelajaran
secara adil sesuai dengan kemampuan mereka. Dalam proses pemetaan ini, guru
dapat melakukan coaching terhadap siswa untuk menggali profil belajar dan kesiapan
belajar siswa. Hal ini membuat seorang guru harus mengenal siswa secara emosional.
Oleh karena itu guru dapat menerapkan komptensi-komptensi yang terdapat dalam
PSE dengan baik.
Dengan
demikian tidak dapat dipungkiri bahwa keterampilan coaching ini
sangat diperlukan bagi guru
sebagai pemimpin pembelajaran. Mengapa demikian? Karena menjadi coaching yang baik,
guru harus :
1.
Memiliki
paradigma berfikir coaching yang meliputi fokus pada coachee, bersikap terbuka
dan ingin tahu, memiliki kesadaran diri yang kuat, mampu melihat peluang baru
dan masa depan.
2.
Berprinsip
coahing yaitu kemitraan, proses kreatif dan memaksimalkan potensi dengan 4
komptensi inti
3.
Memiliki
kompetensi coaching yaitu kehadiran penuh, mendengarkan aktif, mengajukan
pertanyaan berbobot.
Sehingga dapat disimpulkan coaching
membuat siswa
merdeka dalam belajar untuk mengeksplorasi diri guna mencapai tujuan
pembelajaran dan memaksimalkan potensi yang dimilikinya.

Komentar