Sepatu
Baru vs Sepatu Lama
Siang itu, Polu menghampiri mamanya yang sedang merawat tanaman di samping rumah. Dengan perlahan, Polu duduk di sebelah mamanya, yang tampak asyik memberi pupuk dan mencabuti rumput yang tumbuh dalam pot.
“Ma...,
ayolah segera belikan aku sepatu baru,” rengek Polu ke mamanya.
Sambil
tersenyum, mama menoleh ke Polu. Dilihatnya anak laki-lakinya sedang cemberut
dan merajuk meminta dibelikan sepatu baru.
“Tapikan
sepatumu masih bagus,” kata mama singkat, sambil terus melanjutkan kegiatannya
merawat tanaman.
Dengan
lemas Polu pun pergi bergitu saja. Mama menoleh lagi dan tersenyum melihat
ekspresi kecewa Polu. Dalam hati Polu menggerutu dan ngedumel karena
keinginannya untuk meminta sepatu baru tidak dikabulkan oleh mamanya.
“Mama
ini pelit banget, aku kan hanya minta sepatu baru, tapi gak dibelikan! Toh, akukan
gak setiap tahun minta, ini sudah 2 tahun, aku gak beli sepatu,” curhat Polu
kepada Dodo temannya melalui telepon.
Sore
itu, Polu mengadu kepada Dodo temannya. Sejak Polu pindah dari Malang dan
tinggal di Pasuruan, Polu bersahabat dengan Dodo. Polu dan Dodo tidak hanya bermain ketika di sekolah
saja, namun Polu dan Dodo juga bermain bersama ketika hari libur.
“Horee.....horeee.....,”
teriak Polu siang itu sambil melompat kegirangan. Polu menghampiri mamanya
sambil membawa kotak berwarna coklat.
“Terima
kasih ma..., aku suka sepatunya, ukurannyapun juga pas,” kata Polu kegirangan
kepada mama. Yups! mama telah membelikan sepatu baru berwarna hitam sebagai
suprise siang ini. Dan benar saja, Polu sangat terkejut dan gembira.
Keesokkan
harinya, Polu pun langsung memakai sepatu barunya ke sekolah. Dengan wajah
berseri, Polu memamerkan sepatunya kepada Dodo. Bahkan Polu pun menggunakan
sepatunya saat mereka berlibur bersama di pantai. Hari-hari Polu pun dihiasi
dengan sepatu barunya. Langkahnya semakin mantap dan semangatnya pun meluap.
Enam
bulan Polu selalu menggunakan sepatu barunya dalam berbagai kegiatan. Dan sore
itu, ketika pulang dari eskul, Polu cemberut dan melayangkan protes kepada
mamanya.
“Ma...,
lihat! Sepatu baruku rusak, solnya lepas,” kata Polu kecewa.
Mama
buru-buru melihat sepatu Polu, dan benar saja sol sepatu Polu lepas. Mama
segera membersihkan sepatu Polu dan membawanya ke tukang jahit sepatu. Namun
sayang, sepatu Polu tidak bisa segera dijahit karena antri, sehingga baru
minggu depan bisa diambil.
“Yah...
ma..., sepatunya tidak bisa segera selesai, lalu aku pakai sepatu apa?” tanya
Polu lemas.
“Polu,
sepatu lamamukan masih bisa dipakai, kamu bisa pakai sepatu itu lagi,” kata
mama.
Polu
terdiam, matanya memandang ke atas dan mengerutkan dahinya, seakan sedang
mengingat-ingat sesuatu. Tiba-tiba mama datang membawa sepatu lamanya.
“Polu,
ini sepatu lamamu, kamu harus perhatian kepada setiap barangmu, jangan karena
kamu mendapat barang yang baru, kamu meninggalkan barang lamamu begitu saja.”
kata mama.
“Demikian
juga dengan sepatu lamamu, harusnya jika kamu tidak memakainya lagi, maka kamu
harus mencuci dan menyimpan sepatumu dalam keadaan bersih.” Kata mama yang
duduk di sebelah Polu.
“Tidak
ingatkah kamu, sepatu ini dibeli papa ketika papa pulang dari Jakarta? tidak
ingatkah kamu, saat di Malang, kamu memakai sepatu ini untuk sekolah dan
berbagai kegiatan? Kamu melalui berbagai kondisi jalan menggunakan sepatu ini
dan sepatu ini teruji ampuh melindungi kakimu.” Kata mama menasihati Polu.
Polu
terdiam, dia merenungkan perkataan mama. Benar juga kata mama, batin Polu. Saat
sekolah, melakukan kegiatan, bahkan saat melakukan pendakian di gunung, Polu
selalu memakai sepatunya. Kemana dia melangkah sepatu itu selalu melindungi
kakinya agar tidak lecet atau terkena debu tanah yang kotor.
Polu
menyadari bahwa barang baru belum tentu bagus, dan barang lama yang sudah tidak
dipakai lagi, akan dibuang begitu saja. Kenangan saat bersamanya adalah
kenangan terindah yang menjadi kisah hidup, maka kita harus peduli terhadap
barang yang kita punyai, baik itu yang lama maupun yang baru.
Komentar